Model Pembelajaran CTL✨

Hai guys kembali lagi, Hallo! Assalamu'alaikum semuanya 🥰 
Kali ini saya mau bahas lagi salah satu metode pembelajaran yang inovatif nih, dan pasti cocok banget sebagai inspirasi model pembelajaran bagi para pendidik.

Kali ini kita akan bahas Metode pembelajaran CTL, hmm apasih itu yuk kita bahas😉✨

Teori Pendukung CTL

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara meteri yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan nyata sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Hasil atau prestasi belajar peserta didik tidak hanya dilihat dari tampilan kuantitatif, melainkan dilihat dari sisi kualitas penguasaan dan aplikasinya dalam kehidupan yang nyata. Dengan skema konseptual yang seperti itu, hasil pembelajaran bukan sekedar wacana melangit, akan tetapi merupakan hal yang harus membumi dan lebih bermakna bagi siswa.
CTL adalah salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan oleh The Washington State Consortium  for Contextual Teaching and Learning, yang melibatkan 11 perguruan tinggi, 20 sekolah, dan lembaga-lembaga yang bergerak di bidang pendidikan di Amerika Serikat. Salah satu kegiatan dari konsorsium tersebut adalah melatih dan memberi kesempatan kepada para guru dari enam propinsi di Indonesia untuk mempelajari pendekatan kontekstual di Amerika Serikat (Priyatni,2002:1).
Johnson (dalam Nurhadi, 2002:12) merumuskan pengertian CTL sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem CTL, akan  menuntun siswa ke semua komponen utama CTL, yaitu melakukan  hubungan yang bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti, mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, memelihara atau merawat pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian sebenarnya.
Pendekatan CTL menurut Suyanto (2003:2) merupakan suatu pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dalam berbagai macam mata pelajaran baik di sekolah maupun di luar sekolah. 
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar pada saat guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya.

Karakteristik Pembelajaran Berbasis Contextual

Sofyan dan Amiruddin (2007: 16)  mengemukakan bahwa karakteristik pembelajaran CTL yaitu:

1. kerjasama
2. saling menunjang
3. menyenangkan tidak membosankan
4. belajar dengan bergairah
5. pembelajaran terintegrasi
6. menggunakan berbagai sumber
7. peserta didik aktif
8. sharing dengan teman
9. peserta didik kritis dan kreatif.

Komponen-komponen CTL

Ditjen Dikdasmen (dalam komalasari, 2011: 11-12) menyebutkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yaitu:

a. Konstruktivisme (constructivisme)
Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit). Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

b. Menemukan (inquiry)
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, melainkan hasil dari menemukan sendiri melalui siklus: (1).observasi (observation), (2) bertanya (questioning), (3) mengajukan dugaan (hiphotesis), (4) pengumpulan data (data gathering), dan penyimpulan (conclussion).

c. Bertanya (questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Bagi guru bertanya dipandang sebagai kegiatan untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa bertanya merupakan bagian penting dalam melakukan inquiri, yaitu menggali informasi, menginformasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.

d. Masyarakat belajar (learning community)
Hasil belajar diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok –kelompok belajar.

e. Pemodelan (modelling)
Dalam pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu ada model yang bisa ditiru. Guru dapat menjadi model, misalnya memberikan contoh cara mengerjakan sesuatu. Tetapi guru bukan satu-satunya model, artinya model dapat dirancang melibatkan siswa.

f. Refleksi (reflection)
Cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajari sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.

g. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan semata hasil, dan dengan berbagai cara. Penilaian dapat berupa penilaian tertulis (pencil and paper test) dan penilaian berdasarkan perbuatan (performance based assessment), penugasan (project), atau portofolio (portfolio).

Kelebihan dan Kekurangan CTL

Kelebihan:

1. Pembelajaran lebih bermakna, artinya siswa melakukan sendiri kegiatan yang berhubungan dengan materi yang ada sehingga Siswa dapat memahami nya.
2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena pembelajaran CTL menuntut siwa menemukan sendiri bukan untuk menghafalkan
3. Menumuhkan keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat tentang materi yang di pelajari
4. Menumbuhkan rasa ingin tahu tentang materi yang telah di pelajari dengan bertanya kepada pada guru.
5. Menumbuhkan kemampuan dalam bekerja sama kepada teman yang lain untuk memecahkan masalah yang ada 
6. Siswa dapat membuat kesimpulan sendiri dari kegiatan pembelajaran.

Kelemahan:

1. Bagi siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran,tidak mendapat kan pengetahuan dan pengalaman yang sama dengan teman lainnya karena siswa tidak mengalami sendiri
2. Membutuhkan waktu yang lama dalam pelaksanaannya
3. Pengetahuan yang didapatkan oleh masing-masing siswa akan berbeda dan tidak merata
4. Tidak semua siswa mampu dengan mudah menyesuaikan diri dengan model pembelajaran yang satu ini
5. Siswa yang tertinggal pemahamannya akan sulit mengejar ketertinggalannya atas siswa yang lain.

Penerapan CTL dalam Mata Pelajaran Matematika

Contoh Skenario Pembelajaran CTL
Materi ;  Jaring-jaring Bangun Ruang
Sub materi : Jaring-jaring Balok
Model : Pembelajaran Kooperatif
Pendekatan : Contextual Teaching And Learning (CTL)
Metode : Diskusi Kelompok, Tanya jawab, dan Pemberian tugas
Masalah kontekstual : Permasalahan di kehidupan nyata terkait dengan jaring-jaring balok ( benda batu bata )

Langkah I : Konstruktivisme (constructivisme)
Tahapan ini siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar.
Guru membimbing dan mengidentifikasi benda-benda di sekitar yang berkaitan dengan materi, yaitu benda batu bata
Siswa membangun sendiri pengetahuannya dengan mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari (Konstruktivisme (constructivisme))
Guru mengidentifikasi hasil konstruksi siswa dengan penjelasan singkat

Langkah II : Bertanya (questioning)
Tahapan tanya jawab yang dilakukan siswa dan guru sebagai umpan balik pengetahuan dan pemberian kesempatan kepada siswa untuk berpikir kritis.
Guru memberi peluang kepada siswa untuk bertanya tentang hal yang belum dipahami
(Bertanya (questioning))

Langkah III : Menemukan (inquiry)
Tahapan ini didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir sistematis
Guru memberikan contoh bangun ruang balok 
Siswa diminta untuk mengamati dan menggambarkan jaring-jaring balok
 (Menemukan (inquiry))

Langkah IV : (learning community)
Tahapan ini adalah pembelajaran yang diperoleh dengan bekerja sama
Guru membagi kelompok yang berisikan 3-4 siswa 
(Masyarakat belajar (learning community))
Guru membimbing dan mengawasi jalannya diskusi mengenai persoalan yang diberikan yaitu mengamati gambar balok dan menggambarkan jarring-jaring nya
Guru membimbing penyelidikan agar mendorong siswa dalam pengumpulan informasi yang relevan hingga mendapat hasil untuk pemecahan masalah
Guru meminta saah satu perwakilan siswa maju kedepan untuk mempresentasikan hasil gambar jaring-jaring dan kelompok lain menanggapinya

Langkah V : Pemodelan (modelling)
Tahapan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh siswa dan untuk mempermudah
Guru memberikan contoh atau model bentuk jaring-jaring balok (Pemodelan (modelling))

Langkah VI : Refleksi (reflection)
Tahapan guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengingat kembali apa yang telah dipelajari sehingga dapat menyimpulkan
Guru meminta siswa mengidentifikasi benda di sekitar yang berbentuk balok kemudian mendefinisikan apa itu jaring-jaring balok

Langkah VII : Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Tahapan penilaian untuk mengetahui kepahaman siswa
Guru memberi nilai pada kelompok yang sudah menemukan bentuk jaring-jaring balok dan telah mempresentasikannya di depan  (Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)). Guru memberikan soal kepada masing-masing individu untuk mengetahui apakah sudah paham tentang materi hari ini.( Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment))

Untuk selanjutnya kita bahas pertanyaan" Yang mungkin ada dibenak kalian juga yaa😉✨

•••Dari semua penjelasan ini apakah CTL sistemnya harus berkelompok? 🤔
>> Tentu saja, karna menganut dari ciri-ciri yang disebutkan CTL bisa dilaksanakan dengan cara berkelompok 😉✨

•••Apakah CTL ini bisa digunakan disegala jenjang pendidikan? 🤔
>> Tentu saja bisa disegala jenjang dan mapel, tapi untuk yang diharuskan berkelompok ya 😉✨

•••Dari semua penjelasan ini apasih ciri khusus dari CTL? 🤔
>> Ciri khusus CTL sendiri adalah adanya tahapan dan komponen inquiry (menemukan) jadi siswa dituntut menemukan bukan hanya sekadar menghafal saja😉✨

•••Apakah konteksrual yang dimaksud juga harus berdasar dari kehidupan sehari-hari? 🤔
>> Ya tentu saja, contoh pembelajarannya mengenai bangun ruang yang disambungkan langsung bentuk yang sering ditemui dikehidupan sehari-hari contohnya batu bata😉✨

Semoga dapat membantu🥰

Sumber

Suyanto, Kasihani E. 2003. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual. Makalah disajikan dalam Penataran Terintegrasi, AA dalam CTL. Malang: Universitas Negeri Malang.
Nurhadi, dkk. 2002. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.
Priyatni, Endah Tri. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Pembelajaran Konteksual. Makalah disajikan dalam Semlok KBK dan Pembelajarannya di SMAN 2 Jombang. Malang: Universitas Negeri Malang.
Nurhadi. 2009. Makalah Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (Landasan Filosofis dan Aplikasinya). 
Komalasari, Kokom. 2011. Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT Revika Aditama.
Sofyan, Gusarmin dan Amiruddin B. 2007. Modul Diklat Profesi Guru Model-Model Pembelajaran I. Kendari: Universitas Haluoleo. 


Kesimpulannya

Setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan, kekurangan, dan karakteristik masing-masing jadi pandai-pandainya guru bisa mencocokkan materi dan model pembelajaran dengan inovatif, kreatif dan menyenangkan sehingga pembelajaran akan terasa lebih menyenangkan, siswa pun ikut aktif dan lebih tertarik untuk menerima pembelajaran, sekian dari saya terima kasih atas segala perhatiannya, mohon maaf atas segala kesalahan tulisan atau yang lainnya. 

Sampai jumpa!! Wassalammualaikum 🥰

Comments

Popular posts from this blog

Model Pembelajaran Scramble ✨

Model Pembelajaran Mind Mapping✨