Model Pembelajaran Quantum Learning✨

Hai guys kembali lagi, Hallo! Assalamu'alaikum semuanya 🥰 
Kali ini saya mau bahas lagi salah satu metode pembelajaran yang inovatif nih, dan pasti cocok banget sebagai inspirasi model pembelajaran bagi para pendidik.

Kali ini kita akan bahas Metode pembelajaran Quantum Learning, hmm apasih itu yuk kita bahas😉✨

Teori Pendukung Quantum Learning

Trianto (2007) mengemukakan bahwa : “Model pembelajaran adalah suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial”. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas (Arends, 1997: 7). Dengan adanya model pembelajaran, maka pembelajaran yang berlangsung, langkah-langkah pembelajaran, dan capaian pembelajaran akan lebih teratur.
Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011) Quantum Learning  adalah kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat” . Selanjutnya Porter dkk mendefinisikan quantum learning sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.” Mereka berpendapat bahwa kekuatan energi sebagai bagian penting dari tiap interaksi manusia. Dengan mengutip rumus klasik E = mc², mereka alihkan istilah energi itu ke dalam analogi tubuh manusia. “Sebagai pelajar, tujuan kita adalah meraih sebanyak mungkin cahaya. Cahaya ini diibaratkan adalah ilmu yang dipelajari.
Model pembelajaran Quantum Learning adalah suatu pengetahuan dan metodologi belajar yang menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menyampaikan isi dan strategi belajar untuk memudahkan proses belajar mengajar yang berhasil dan efektif. Model Quantum Learning telah digunakan dan dikembangkan dalam pembelajaran Quantum di SuperCamp. SuperCamp adalah lembaga pembelajaran yang terletak di Kirkwood Meadows, Negara bagian California, Amerika Serikat. De Porter bersama-sama temannya Greg Simmons, Mike Hernachi, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nourine secara terprogram dan terencana melaksanakan gagasan-gagasan pembelajaran Quantum Learning.
Salah satu landasan pembelajaran quantum learning adalah teori suggestology atau suggestopedia. Suggestologi  (Richard, Jack K. dan Theodore S. Rodgers, 1993) adalah metode pengajaran yang didasarkan pada pemahaman modern tentang bagaimana otak manusia bekerja dan bagaimana kita belajar paling efektif. Landasan ini dapat diwujudkan dengan menggunakan sugesti atau kata-kata positif untuk menciptakan suasana yang menggembirakan, rileks dan didalamnya dapat memberi kesan-kesan yang positif dalam pembelajaran sehingga mampu mencapai hasil pembelajaran yang efektif . 
Prinsip teori tersebut adalah sugesti dapat mempengaruhi hasil belajar. Beberapa teknik yang digunakan untuk memberi sugesti positif adalah dengan mendudukkan siswa secara nyaman, memasang musik latar di dalam kelas, memutarkan film-film pendek, meningkatkan partisipasi individu dengan kegiatan-kegiatan pembelajaran aktif serta pemberian penguatan- penguatan oleh guru (pengajar).


Tahapan-tahapan

Menurut DePorter, Reardon dan Nourie (2000: 88) dalam melakukan langkah-langkah pembelajaran quantum learning dengan enam langkah yang tercermin dalam istilah TANDUR, yaitu sebagai berikut : 
Tahap I: Tumbuhkan
   Guru menyampaikan aperesepsi, tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi kepada peserta didik dengan cara memberikan pemahaman tentang “Apa Manfaat Bagiku” (AMBAK) yang akan menumbuhkan minat peserta didik terhadap materi yang akan dipelajari. Tumbuhkan suasana yang menyenangkan di hati peserta didik, dalam suasana relaks, tumbuhkan interaksi dengan peserta didik berkaitan dengan materi yang dipelajari. 

Tahap II: Alami
 Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengaitkan pengalaman-pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh mereka yang berkaitan dengan materi yang dipelajari.

Tahap III: Namai
  Guru membimbing siswa untuk mengumpulkan informasi, dengan adanya bimbingan akan lebih memudahkan siswa dalam mengingat atau menghafal materi yang telah diberikan. Pada tahapan ini guru mengajarkan pemahaman konsep kepada peserta didik terkait materi yang dipelajari. 

Tahap IV: Demonstrasikan
Tahap Demonstrasikan berkaitan dengan kegiatan aktif peserta didik yang mencerminkan mereka mampu memahami materi yang sudah dipelajari. Tahapan ini dapat diimplementasikan dengan presentasi di depan kelas. Pada tahapan ini tugas guru adalah meyakinkan siswa dengan memberikan penguatan bahwa mereka mampu melakukannya. Dengan rancangan ini, peserta didik akan terlibat aktif dan menunjukkan kemampuannya.

Tahap V: Ulangi
   Guru memberikan penguatan, koreksi, dan  evaluasi tentang materi yang telah dipelajari, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk bertanya terkait hal yang belum dipahami. Hal ini berguna untuk menghindari timbulnya salah pemahaman konsep dalam proses pembelajaran.

Tahap VI: Rayakan
Tahapan ini berupa pemberian pengakuan, apresiasi atau reward atas prestasi dan juga kemampuan peserta didik meenyelesaikan proses pembelajaran dengan baik. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui tepuk tangan, pemberian pujian, berteriak hore, dan lain-lain.


Kelebihan dan kekurangan

Dalam sebuah model pembelajaran tentu tidak ada yang sempurna, setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan. model pembelajaran quantum teaching memiliki kelebihan dan kekurangan, menurut Shoimin (2014, h. 145) sebagai berikut:

1. Kelebihan model pembelajaran quantum learning

a. Proses pembelajaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
b. Peserta didik didorong untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan.
c. Karena model pembelajaran quantum learning membutuhkan kreativitas dari seorang guru untuk merangsang keinginan bawaan peserta didik untuk belajar, secara tidak langsung guru terbiasa untuk berfikir kreatif setiap harinya.
d. Pelajaran yang diberikan oleh guru mudah diterima atau dimengerti oleh peserta didik

2. Kekurangan model pembelajaran quantum learning

Selain kelebihan, pembelajaran quantum learning  juga memiliki kekurangan. Kekurangannya menurut Shoimin (2014, h. 146) antara lain:
a. Model ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang di samping memerlukan waktu yang cukup panjang
b. Fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.
c. Model ini memerlukan keterampilan guru secara khusus karena tanpa ditunjang hal itu, proses pembelajaran tidak akan efektif.
d. Agar belajar dengan model pembelajaran ini mendapatkan hal yang baik diperlukan ketelitian dan kesabaran. Namun kadang-kadang ketelitian dan kesabaran itu diabaikan sehingga apa yang diharapkan tidak tercapai sebagaimana mestinya.

Penerapan Quantum Learning dalam Mata Pelajaran Matematika

Kegiatan awal : 

-mengawali pembelajaran dengan doa
-melakukan absensi kehadiran siswa

Kegiatan Inti :

1. Tumbuhkan

-guru memberikan apersepsi sebagai penggalian pengetahuan awal peserta didik terhadap apa yang diajarkan. Dengan mengajukan pertanyaan kepada peserta didik “masih ingatkah kalian operasi bilangan ?”

-guru menyampaikan tujuan pembelajaran

-guru memberikan motivasi bahwa materi yang akan dipelajari sangat penting.

“Andi hendak membeli pensil di toko makmur untuk dijual kembali kepada teman-teman nya di sekolah. Terdapat beraneka ragam pilihan pensil , yaitu

1. Pensil A dengan kualitas sangat baik , 1 lusin seharga 28.000

2. Pensil B dengan kualitas sangat baik , 1 lusin seharga 24.000

3. Pensil C dengan kualitas baik, 1 lusin seharga 20.000

Maka ,

1. Andi akan mendapatkan untung paling banyak jika membeli pensil yang mana ?

2. Berapa harga jual pensil tersebut supaya andi mendapatkan untung ?

3. Berapa harga jual pensil yang menyebabkan andi mengalami kerugian?”

2. Alami

-guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok

-setiap kelompok melakukan kegiatan jual beli secara sederhana yang di dalamnya memuat materi aritmatika sosial yaitu untung, rugi dan presentasenya.

-setiap anggota kelompok ada yang berperan menjadi penjual dan pembeli , kemudian melakukan kegiatan jual beli secara sederhana sesuai dengan yang mereka alami pada kehidupan sehari-hari (hal ini dilakukan untuk mempermudah peserta didik dalam memahami materi yaitu dengan mengaitkan materi tersebut kepada pengalaman peserta didik sehari-hari, sehingga mereka memahami bahwa kegiatan jual beli yang selama ini mereka lakukan ternyata memuat materi aritmatika sosial)

-setelah kegiatan selesai, guru mengaitkan materi yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari dengan mengajukan pertanyaan “biasanya proses jual beli tersebut terjadi dimana? kapan si penjual dikatakan untung maupun rugi?”

3. Namai

-Dari kegiatan yang sudah di lakukan tadi, peserta didik dapat mengetahui bahwa kegiatan tersebut merupakan penerapan materi aritmatika sosial yang berkaitan dengan untung, rugi, dan presentasenya.

4. Demosntrasikan

-guru memberikan permasalahan mengenai untung, rugi, dan presentasenya kepada masing-masing kelompok

-masing-masing perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka terkait permasalahan yang diberikan guru

5. Ulangi

-Guru memberi penguatan materi mengenai untung, rugi dan presentasenya

-Guru memberikan tugas individu kepada peserta didik

Kegiatan Penutup :

6. Rayakan

-guru dan peserta didik bertepuk tangan sebagai penghargaan atas semangat selama proses pembelajaran berlangsung maupun prestasi peserta didik dalam mengerjakan soal yang diberikan

-guru mendorong peserta didik untuk mengungkapkan kesan pentingnya pembelajaran yang baru dilaksanakan dan pengajuan saran sebagai upaya perbaikan proses pembelajaran berikutnya

            -Guru menutup pembelajaran dengan do’a dan salam.

DAFTAR PUSTAKA

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif berorientasi kontruktivistik. Prestasi Pustaka: Jakarta.

DePorter, Bobbi dan Hernacki, Mike. 2011. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa Learning.

Richard, Jack K. dan Theodore S. Rodgers. 1993. Appoarch and Method in Language Teaching, a description and Analysis. New York: Cambridge University Press.

DePorter, Bobby, Mark Reardon dan Sarah Singer – Nourie. 2010. Ed. 2, cet. ke – 1. Quantum Teaching. Penerjemah : Ary Nilandari. Bandung: Kaifa.

Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran INOVATIF dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA

Kesimpulannya

Setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan, kekurangan, dan karakteristik masing-masing jadi pandai-pandainya guru bisa mencocokkan materi dan model pembelajaran dengan inovatif, kreatif dan menyenangkan sehingga pembelajaran akan terasa lebih menyenangkan, siswa pun ikut aktif dan lebih tertarik untuk menerima pembelajaran, sekian dari saya terima kasih atas segala perhatiannya, mohon maaf atas segala kesalahan tulisan atau yang lainnya. 

Sampai jumpa!! Wassalammualaikum 🥰

Comments

Popular posts from this blog

Model Pembelajaran Scramble ✨

Model Pembelajaran CTL✨

Model Pembelajaran Mind Mapping✨